Assalamualaikum
Wr.Wb. Hallo !!!!! Salam sejahtera untuk kita semua!!!!!
Wah…. Tak terasa ya umur Indonesia
sudah mencapai angka 72 tahun. Perjuangan yang begitu heroik pun sekarang sudah dirangkum manis dan dinamis dalam kenangan. Apa yang sobat-sobat rencanakan
dalam rangka merayakan Kemerdekaan Indonesia di era globalisasi ini? Di jalanan
mulai berwarna dengan warna-warna nasionalis dari bendera merah putih. Beberapa
daerah juga sudah mendekor daerahnya dan menyiapkan banyak permainan yang biasa
dimainkan saat 17-an seperti lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan
sebagainya. Membayangkan betapa menyenangkannya melihat keluarga berkumpul
bercengkrama sambil menghabiskan tanggal merah yang begitu berharga.
Nah sekarang mulai inti artikel
ini. Tadi, kita sempat menyinggung akan era globalisasi yang ditandai dengan
perkembangan teknologi yang semakin maju. Sekarang bisa dibilang tidak jaman
lagi menggunakan SMS ataupun pulsa. Sekarang zamannya kuota dimana dengan kuota
bisa sangat membantu kita dalam berinteraksi dengan yang lainnya. Seperti yang
kita semua tahu dari mulai anak-anak bahkan orang tua sekarang memegang smartphone
digenggamannya. Bahkan Liputan6 mengutip ada sekitar 137,4 juta pengguna sosial
media di Indonesia pada tahun 2016. Dari data pengguna yang terbilang besar
tersebut muncul permasalahan yang lumayan rumit dan banyak menjadi perbincangan
dibaliknya. Pro dan Kontra bermunculan apalagi saat menghubungkannya dengan
peran keluarga.
Menurut pendapat dipihak kontra,
sosial media berdampak buruk bagi hubungan keluarga. Kenapa bisa seperti itu?
Untuk mencari kenapa munculnya pendapat tersebut sangatlah mudah. Alasannya Karena
mereka akan terperangkap atau tenggelam dalam dunia baru mereka masing-masing
di sosial media.
Sikap ini sangat disayangkan karena waktu yang seharusnya kita habiskan dengan keluarga malah tidak terbagi karena mereka terlalu asyik di sosial media. Selain itu juga, para pengguna social media lebih memilih untuk membuat postingan akan curhatan hatinya di social media dibandingkan berbicara langsung pada keluarga.
Contohnya saat merayakan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni yang lalu. Disetiap sosial media dibanjiri postingan mulai dari yang normal ‘Selamat hari keluarga!!!’ sampai yang alay-alay seperti ‘I Luv My Family… Celaluuu’ pun ikut memeriahkan hari keluarga nasional. Memang itu hak mereka dan tidak ada hukum yang melarang Namun keadaannya sangat berbanding terbalik di kehidupan aslinya. Mereka lebih terbuka mengungkapkan perasaan mereka di sosial media dibanding bilang secara langsung pada keluarga.
Sikap ini sangat disayangkan karena waktu yang seharusnya kita habiskan dengan keluarga malah tidak terbagi karena mereka terlalu asyik di sosial media. Selain itu juga, para pengguna social media lebih memilih untuk membuat postingan akan curhatan hatinya di social media dibandingkan berbicara langsung pada keluarga.
Contohnya saat merayakan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni yang lalu. Disetiap sosial media dibanjiri postingan mulai dari yang normal ‘Selamat hari keluarga!!!’ sampai yang alay-alay seperti ‘I Luv My Family… Celaluuu’ pun ikut memeriahkan hari keluarga nasional. Memang itu hak mereka dan tidak ada hukum yang melarang Namun keadaannya sangat berbanding terbalik di kehidupan aslinya. Mereka lebih terbuka mengungkapkan perasaan mereka di sosial media dibanding bilang secara langsung pada keluarga.
Permasalahan disini adalah kenapa
peristiwa diatas menjadi salah sosial media? Bukankan sebuah kekeliruan jika
hal seperti yang diceritakan diatas adalah sebuah kesalahan sosial media? Saya
melihat kekeliruan itu.
Sosial media justru sangat
berpengaruh besar dalai keharmonisan sebuah keluarga. Bahkan pada awal
pengenalan tata tertib ber-sosial media pun dimulai dari keluarga. Peran
keluarga sangat berpengaruh dalam pengawasan anak di sosial media. Namun hal
tersebut hanya berlaku bagi keluarga yang memiliki waktu cukup untuk
keluarganya.
Cari contoh lainnya seperti kisah orangtua pemupuk uang dan kisah anak pintar dari negeri seberang. Kita bahas dari kisah pertama tentang orangtua pemupuk uang yang semakin meningkat karena desakan kebutuhan hidup sehari-hari. Apakah mereka punya waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka? Tentu punya namun sedikit. Untuk mengontrol anggota keluarganya yang lain seperti anak mereka, social media berperan besar disini. Fasilitas Video call dari social media membantu orangtua menjalin komunikasi dengan buah hati mereka dirumah ataupun disekolah. Selain itu, didunia pekerjaan mereka social mediapun cukup membantu. Dengan naiknya harga dan kurang praktisnya penggunaan pulsa, kuota banyak dipilih karena mampu melakukan hal yang jauh lebih lengkap dari sekedar SMS dan telpon.
Peran social media tak jauh berbeda dengan kisah pertama dengan kisah kedua yakni kisah anak pintar dari negeri seberang. Maksud negeri seberang disini adalah anak-anak yang menjalankan pendidikannya diluar negeri. Selain untuk mengontak keluarganya, siswa juga menggunakan social media untuk berkomunikasi baik antara sesama siswa ataupun dengan gurunya. Apalagi sekarang sedang zamannya kelas maya dimana guru dan siswa dihubungkan melalui social media digadget mereka. Peran social media tak hanya sampai situ. Siapa yang tak tahu kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu seperti Reuni. Melalui social media akan memudahkan kita dalam berhubungan bahkan dengan teman yang telah lama tak jumpa.
Cari contoh lainnya seperti kisah orangtua pemupuk uang dan kisah anak pintar dari negeri seberang. Kita bahas dari kisah pertama tentang orangtua pemupuk uang yang semakin meningkat karena desakan kebutuhan hidup sehari-hari. Apakah mereka punya waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka? Tentu punya namun sedikit. Untuk mengontrol anggota keluarganya yang lain seperti anak mereka, social media berperan besar disini. Fasilitas Video call dari social media membantu orangtua menjalin komunikasi dengan buah hati mereka dirumah ataupun disekolah. Selain itu, didunia pekerjaan mereka social mediapun cukup membantu. Dengan naiknya harga dan kurang praktisnya penggunaan pulsa, kuota banyak dipilih karena mampu melakukan hal yang jauh lebih lengkap dari sekedar SMS dan telpon.
Peran social media tak jauh berbeda dengan kisah pertama dengan kisah kedua yakni kisah anak pintar dari negeri seberang. Maksud negeri seberang disini adalah anak-anak yang menjalankan pendidikannya diluar negeri. Selain untuk mengontak keluarganya, siswa juga menggunakan social media untuk berkomunikasi baik antara sesama siswa ataupun dengan gurunya. Apalagi sekarang sedang zamannya kelas maya dimana guru dan siswa dihubungkan melalui social media digadget mereka. Peran social media tak hanya sampai situ. Siapa yang tak tahu kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu seperti Reuni. Melalui social media akan memudahkan kita dalam berhubungan bahkan dengan teman yang telah lama tak jumpa.
Lalu bagaimana jika Peran keluarga bekerjasama dengan peran sosial media? Bayangkan betapa hebatnya generasi dengan gabungan kekeluargaan dan kecanggihan teknologi. Dari 2 kisah yang telah kita ceritakan diatas juga kita bisa melihat betapa dinamis dan kuatnya keluarga Indonesia yang terhambat jarak dan kesibukan namun tetap terhubung dengan menggunakan social media.
Peran social media itu sangat
penting dalam hal silaturahmi. Baik dengan keluarga kita dirumah sampai
keluarga kita disekolah sampai keluarga kita di dunia kerja. Jadi, keluarga dan
social media itu saling ketergantungan. Jadi pintar-pintar memilih waktu antara
berkomunikasi di social media dan berkomunikasi secara langsung dengan keluarga
tercinta.
Sekian artikel Ini, selamat hari
kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Jangan lupa ikut permainan balap karung,
lomba makan kerupuk dan panjat pinangnya yang seru banget dan nikmati quality time
bersama keluarga tercinta. Ini salam dari Cilegon sampai bertemu lagi !!!!!
Link status disini
Link status disini






0 komentar:
Posting Komentar